Cinta kasih membantu seseorang untuk menahan segala tekanan yang
dialami dalam pernikahan. Cinta kasih mampu membuat seseorang
menaruh kepercayaan kepada yang lain.
Cinta kasih mampu memaklumi seseorang pada saat orang yang kita
kasihi sedang lemah dan berbuat salah. Orang yang mencintai dengan
segenap batinnya akan senantiasa memberi kebebasan untuk orang yang
dicintainya, memilih dan memiliki kebahagiaan dengan caranya
sendiri.
Banyak orang terjebak ingin menguasai kekasih, membatasi
pergaulannya, mengatur seleranya berbusana, atau malah berkebalikan
yakni menjadi pihak yang selalu mengalah, berbuat apa saja yang
diharuskan sang kekasih. Kondisi seperti ini, memberi makna bahwa
kita belum siap memberi dan menerima kedatangan 'cinta' di mana
masing-masing pihak masih bersikeras menggunakan cara sendiri.
Cinta Tidak Buta
Kenyataan di lapangan mengungkapkan bahwa cinta itu tidak buta,
tetapi nafsulah yang buta. Di sinilah terlihat beda antara cinta dan
nafsu. Banyak pernikahan terjadi didasari nafsu ketertarikan
seketika, tetapi diberi label 'cinta'. Maka, lahirlah kalimat, cinta
pada pandangan pertama!
Waktu kita jatuh cinta, segala hal yang negatif disembunyikan.
Sejalan dengan waktu, hal yang tersembunyi ini menjadi masalah di
kemudian hari, ketika tak ada tempat lagi untuk menyembunyikannya.
Suatu ketika kita sadar bahwa karakter pasangan kita banyak
kekurangan sehingga membuat ketidakcocokan hidup bersama, lalu
masalah lain pun menumpuk. Apakah persoalan relasi antarpasangan itu
tadi bisa diatasi dengan cinta belaka? Faktanya, cinta tidaklah
seajaib itu. Maka, cinta saja tidak cukup. Harus menjadi cinta kasih
untuk lebih kuat.
Cinta tidak melenyapkan semua masalah. Banyak orang berpikir, jika
kita mempunyai cinta, maka segala masalah akan teratasi. Seakan-akan
cinta itu obat bagi segala penyakit relasi. Cinta hanya bisa membuat
sepasang kekasih lebih berani dalam bertindak dan tahan dalam
berjuang menghadapi masalah yang ada.
Sangat berbahaya bila kita jatuh cinta berdasarkan menyukai kekasih
hanya sebatas fisik, walaupun kita sadar, banyak hal dari dirinya
yang kita tidak suka, tidak cocok. Jika kita tergila-gila kepada
seseorang hanya karena senang ketika kontak fisik, maka itu bukan
jatuh cinta, tetapi hanya nafsu belaka.
Cinta yang tidak buta, sadar akan kekurangan kekasihnya tetapi
karena ada cinta di hatinya maka dia bisa mengatasinya dengan
berusaha menerima dan memberi toleransi yang besar dengan harapan
sang kekasih bisa berubah. Berdasarkan perasaan cinta yang besar,
maka keinginan-keinginan tersebut, haruslah didasari dengan maksud
baik.
Cinta yang tidak buta, tidak akan memberitahu kekurangan kekasih
dengan geram, marah membenci, cinta tidak merasa jijik, cinta tidak
mencaci, dan mengungkit-ungkit masa lalu. Tetapi, dengan cinta kita
mengingatkan, memberi nasihat, memberi ruang agar sang kekasih
menyadari keburukannya, dan mau berubah karena kesadarannya sendiri.
Nafsu bisa membutakan! Banyak orang yang menjalin hubungan dengan
penuh nafsu, sangat tergila-gila dengan kontak fisik, kecanduan seks
pranikah, maka saat menikahinya, menerima saja kekurangan
kekasihnya, tanpa keinginan memperbaiki. Hubungan yang didasari
nafsu akan cepat jenuh, ketika kekurangan sang kekasih, semakin hari
semakin terlihat dan kita lebih kritis untuk menuntut perubahan.
Ketika perubahan tidak juga didapat kita mengkhayal akan datang
orang lain yang menggantikannya dan berusaha meninggalkannya. itulah
akhir dari pernikahan yang berlandaskan nafsu bukan cinta kasih.
Pernikahan memungkinkan bagi banyak pasangan untuk saling melayani
dan saling mengasihi dengan demikian pernikahan makin dikekalkan
oleh cinta kasih, sama-sama berusaha menjadi pemberi kebahagiaan
pada masing-masing pasangannya.
Sama-sama menghargai kekurangan yang ada, dan sama-sama memberi
waktu untuk memperba- iki diri, tidak gengsi untuk meminta maaf jika
berbuat salah.
Sumber : kamar sebelah
_________________

